1. Background
Trafik
merupakan peristiwa-peristiwa pada dasarnya tidak diketahui kapan datangnya dan
berapa lama akan berlangsung. Maka untuk mengetahui trafik secara kuantitatif
harus diselesaikan dengan statistik dan teori probabilitas. Sehubungan dengan
hal tersebut peristiwa trafik dideskripsikan ke dalam model probabilitas yang
disesuaikan dengan :
1. pola
kedatangan panggilan
2. pola
lamanya waktu pendudukan
3. disiplin
operasi
2. Description
Penggambaran
matematis untuk proses trafik yaitu dengan stokastik yang disebut dengan proses
kelahiran dan proses kematian.
Gambar 2.1 : Diagram
transisi kondisi
Proses kelahiran
adalah proses datangnya panggilan dan proses kematian adalah proses berakhirnya
panggilan.
adalah
state atau kondisi yang menggambarkan
jumlah saluran (berkas) yang sibuk pada suatu saat. Proses yang ditinjau adalah
kondisi yang menyatakan jumlah saluran atau peralatan yang diduduki sebagai
fungsi waktu.
P(0),P(1),… P(N) adalah
state probability atau probabilitas kondisi yaitu lamanya kondisi tersebut
berlangsung dalam interval waktu tertentu
Pada
waktu dt kondisi n dapat menjadi (n+1) jika terdapat 1 panggilan datang dan
(n-1) jika terdapat 1 panggilan berakhir
Trafik yang
memenuhi distribusi Poisson atau
proses Poisson disebut dengan Pure Chance Traffic atau kedatangan acak
(Random Arrival), dengan ciri yang
paling penting yaitu Harga rata-rata (mean=M)
= Harga Variansi (variance=V) -à
M=V
Koefisien
kelahiran = λ , ini karena diambil dari probabilitas datangnya panggilan dalam
waktu ∆t =P(∆t ) = λ.∆t dan λ merupakan laju rata-rata datangnya panggilan
selang 1 jam (jam sibuk).
Koefisien kematian = nµ, diambil dari Probabilitas berakhirnya sebarang 1 pendudukan dalam waktu ∆t= P(∆t ) = nµ. ∆t , dan nµ merupakan laju rata-rata berakhirnya pendudukan pada kondisi n dalam 1 jam sibuk. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Koefisien kematian = nµ, diambil dari Probabilitas berakhirnya sebarang 1 pendudukan dalam waktu ∆t= P(∆t ) = nµ. ∆t , dan nµ merupakan laju rata-rata berakhirnya pendudukan pada kondisi n dalam 1 jam sibuk. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Ditinjau
suatu berkas saluran yang diduduki sebanyak n saluran.
Berapa
probabilitas sebarang satu saluran berakhir dalam waktu ∆t?
- Probabilitas bahwa suatu pendudukan di suatu saluran berakhir dalam waktu ∆t = µ ∆t (ini karena distribusi waktu pendudukan adalah exponensial negatip)
- Dan Probabilitas bahwa suatu pendudukan di suatu saluran tidak berakhir dalam waktu ∆t = 1-µ ∆t
Akan ditinjau untuk n pendudukan
dalam berkas tersebut :
- Probabilitas satu pendudukan tertentu berakhir ( dan yang lainnya tidak) dalam waktu ∆t = µ ∆t. (1-µ ∆t)(n-1) maka,
- Probabilitas bahwa sebarang satu pendudukan akan berakhir (dan yang lainnya tidak) dalam waktu ∆t :
Persamaan kesetimbangan :
Gambar 2.2 : Diagram transisi kondisi
2.1 Model Trafik
Gambar 2.3:
Model Trafik
Bila S,N = ~ memakai model Poisson
S = ~ dan N terbatas memakai model
Erlang
S≤N , terbatas memakai model
Binomial/Bernouli
S>N , terbatas, memakai model
Engset
2.2 Model Poisson
Asumsi untuk
model Poisson :
1. kedatangan panggilan acak (random
arrival)
2. waktu pendudukan : distribusi
eksponensial negative
3. disiplin operasi :
ü sumber trafik tak terbatas
ü jumlah saluran yang melayani : ∞ (
panggilan yang datang selalu dilayani)
ü Mean holding time terbatas = h
ü Rate rata-rata datangnya panggilan :
l (konstan)
Gambar 2.4 : Model
Poisson
2.2.1 Diagram Transisi Kondisi
Gambar 2.5 : Diagram transisi
kondisi
Dengan persamaan kesetimbangan
· Untuk i = N
P(N) = AN/N ! P(0)
harga P(0) di dapat dari persamaan
normal
e=
logaritmik natural (e= 2,7183)
Distribusi Poisson digunakan untuk :
- mendimensikan group trunk pilihan terakhir (final trunk group) dimana panggilan yang diblok tidak ditawarkan kepada group sirkit lainnya.
- dipakai dalam kasus erlang B dipakai.
2.3 Model
Erlang
Gambar 2.6 : Model Erlang
Asumsi untuk model Erlang :
1. kedatangan panggilan acak (random
arrival)
2. waktu pendudukan : distribusi
eksponensial negative
3. disiplin operasi :
ü sumber trafik tak terbatas (∞)
ü jumlah saluran yang melayani : N ,
terbatas. Panggilan yang datang pada waktu semua saluran sibuk,
dihilangkan/dibuang.
ü Full availability/berkas sempurna,
setiap saluran yang bebas selalu dapat diduduki oleh panggilan yang datang
ü Mean holding time terbatas = h
ü Rate rata-rata datangnya panggilan :
l (konstan)
2.3.1 Diagram Transisi Kondisi
|
|
Gambar 2.7 : Diagram Transisi
Kondisi
Dengan persamaan kesetimbangan
· Untuk i = N
P(N) = AN/N ! P(0)
harga P(0) di dapat dari persamaan
normal
P(N) =
kongesti waktu , yaitu menyatakan berapa lama (dalam satuan jam) terjadinya
kondisi blocking.
R(N) =
kongesti panggilan, yaitu menyatakan berapa bagian panggilan yang ditolak
(hilang). Pada umumnya besarnya kongesti waktu tidak sama dengan kongesti
panggilan, akan tetapi dalam hal kedatangan yang acak untuk berkas sempurna :
Hal tersebut
dapat ditunjukkan sbb :
Kongesti panggilan = Bagian panggilan yang ditolak
Total panggilan yang datang
P(N)=
Probabilitas semua server/saluran sedang sibuk/diduduki, biasanya disimbolkan
dengan E1,N(A) atau EN(A) atau B atau rumus rugi erlang
atau rumus erlang B
Rumus rugi erlang ini mempunyai 3 besaran
yaitu : A,N dan B. harga-harga tersebut dapat ditabelkan.
Ada dua sifat penting dari rumus rugi
erlang tersebut, yaitu efisiensi dan kepekaan.
- Efisiensi (A/N)
Untuk B tertentu, dengan bertambah
besarnya A, akan diperlukan N yang lebih besar pula. Untuk B tertentu (misalnya
1%). Makin besar saluran makin baik efisiensinya. Ini merupakan keuntungan
bekerja pada N besar.
- Kepekaan terhadap perubahan trafik
Pada berkas saluran yang besar akan
lebih besar pula kepekaannya bila dibandingkan dengan berkas yang kecil. Ini
merupakan kerugian bila bekerja dengan N besar.
Hal-hal tersebut dapat dilihat pada
table berikut:
N
|
A
|
A/N
|
1,1A (A naik 10%)
|
(1,1A dan N tetap) B berubah menjadi
|
2
4
10
50
|
0.15
0.87
4.46
37.90
|
0.075
0.215
0.440
0.760
|
0.165
0.957
0.906
41.690
|
0.012(=1.2%)
0.013(=1.3%)
0.015(=1.5%)
0.030(=3.0%)
|
2.3.2 Rumus Rekursive Erlang B
Untuk tujuan penghitungan dengan
computer, maka rumus erlang B dibuat rumus recursive sbb
A= trafik yang ditawarkan kepada trunk
N = jumlah
sirkit/server yang melayani
Distribusi erlang digunakan untuk :
Mendimensikan
sirkit antara 2 sentral local atau toll yang dihubungkan secara ‘direct’ (tanpa
overflow)
2.3.3 Metode pencarian jalan:
Metode pencarian jalan terdapat 2
metode yaitu metode homing dan metode non homing.
2.3.3.1 Metode Homing
Gambar 2.8: metode homing
Pada metode homing, pemilihan jalan
selalu mulai dari 1,2,3……dst. Ini
berarti bahwa setelah selector dipakai,
wiper selalu dikembalikan ke tempat semula (permulaan jalan keluar ke 1) dan
beban atau muatan trafik pada jalan-jalan keluar permulaan lebih besar dari
pada jalan-jalan keluar akhir.
Perhitungan muatan pada homing selector.
Misalkan sejumlah selector yang mempunyai jalan keluar N
saluran digandakan (multiple) seperti pada gambar 2.10, sehingga berkas saluran
masuk dan berkas saluran keluar terdiri dari N saluran.
Di berkas masuk terdapat trafik A
yang ditawarkan ke berkas keluar yang terdiri N saluran. Karena setiap
pengetesan jalan keluar selalu dimulai dari jalan ke 1, kemudian jalan ke 2,
dst,
maka :
Besarnya R1, R2,R3…RN
dapat dihitung dengan rumus rugi erlang .
RN=A.EN(A) [2.4]
R1=A-Y1,
Dimana Y1 adalah besarnya trafik yang dimuat oleh jalan keluar ke 1
R2=R1-Y2,
Dimana Y2 adalah besarnya trafik yang dimuat oleh jalan keluar ke 2
R3=R2-Y3,
Dimana Y3 adalah besarnya trafik yang dimuat oleh jalan keluar ke 2
.
[2.5]
dst
maka Y1,Y2,Y3…..YN dapat dihitung (jadi muatan tiap
saluran dapat dihitung)
Waktu pencarian jalan
Pada metode ini pengetesan selalu
dimulai dari langkah (saluran ke 1), sehingga beban tiap saluran keluar tidak
sama.
Muatan saluran-saluran permulaan
lebih besar dari muatan saluran-saluran yang lebih akhir.
Gambar 2.9 : model system homing
dipakai rumus rugi erlang:
jumlah saluran rata-rata yang di
tes:
substitusi y=k-1 :
jadi persamaan ** menjadi :
Contoh
Misalkan Switching Network bekerja
secara homing selektor.
Berkas masuk : 200 saluran (besar).
Berkas keluar = 3 saluran. Trafik yang ditawarkan = 2 Erlang.
Ditanyakan
a) Y1, Y2 dan Y3
b) GOS sistem
c) Jumlah pencarian jalan rata-rata(n
rata-rata)
d) Waktu yang diperlukan untuk
pencarian jalan rata-rata, jika diketahui pencarian jalan per saluran = 0,5
detik
Jawab :
n (rata-rata) = 1+0,66+0,4 = 2,06
saluran
d) Jika
waktu pengetesan untuk satu saluran dibutuhkan waktu 0,5 detik, maka waktu
rata-rata yang dibutuhkan untuk pengetesan =
n( rata-rata) x 0,5 detik = 2,06 x 0,5 = 1,03 detik.
2.3.3.2 Metode non Homing
Pada metode non homing pemilihan jalur keluar tidak
selalu dimulai dari jalan keluar ke 1, tetapi sembarang jalan keluar,
tergantung/dimulai dari jalan keluar yang terakhir dipakai. Ini berarti, wiper
setelah dipakai (pembubaran tidak dikembalikan ke tempat semula/jalan keluar ke
1) dan muatan trafiknya merata ke seluruh jalan keluar.
Gambar 2.10 metode non homing
Perhitungan muatan untuk non homing selector
Karena muatan tiap jalan keluar
(saluran) rata/sama maka dapat dihitung sbb:
Y (muatan trafik pada berkas keluar)
- Waktu pencarian jalan
Ini berarti bahwa pengetesan tidak
selalu dimulai dari langkah ke 1, tetapi random dan sebagai konsekuensinya :
beban (muatan) tiap saluran keluar merata (sama).
Bila beban tiap saluran = p, maka
berarti :
Probabilitas saluran sibuk = p
Probabilitas saluran bebas = 1-p = q
Akan dicari waktu lamanya rata-rata
proses pencarian jalan (karena switch perlu waktu untuk mengetes jalan
(saluran), bila bebas lalu diduduki.
Switch akan mengalami
keadaan-keadaan sbb :
No
|
Kondisi
|
Pengetesan langkah ke n
|
Probabilitas
|
1
|
1 saluran
pertama yang dites(pengetesan secara random) : bebas
|
1
|
q = 1-p
|
2
|
1 saluran pertama
yang dites : sibuk
1 saluran
yang dites kedua : bebas
|
2
|
q = p(1-p)
|
3
|
2 saluran
pertama yang dites : sibuk
1 saluran
yang dites ketiga : bebas
|
3
|
P2(1-p)
|
:
:
|
:
|
||
N-1
|
(N-2)
saluran pertama yang dites : sibuk
1 saluran
yang dites ke(N-1) : bebas
|
N-1
|
PN-2(1-p)
|
N
|
(N-1)
saluran pertama yang dites : sibuk
1 saluran
yang dites ke N : bebas
|
N
|
PN-1(1-p)
|
N+1
|
(N)
saluran yang dites : sibuk
|
N
|
PN
|
Harga
rata-rata dari pengetesan yang ke n atau jumlah rata-rata langkah (saluran)
dihitung mulai dari langkah permulaan sampai dengan berhentinya switch :
waktu
lamanya pengetesan rata-rata = n rata-rata x waktu tes/sal
Contoh
Misalkan Switching Network bekerja
secara non-homing selektor.
Berkas masuk : 200 saluran (besar).
Berkas keluar = 3 saluran. Trafik yang ditawarkan = 2 Erlang.
Ditanyakan
a) Y1, Y2 dan Y3
b) GOS sistem
c) Jumlah pencarian jalan rata-rata
d) Waktu yang diperlukan untuk
pencarian jalan , jika diketahui pencarian jalan per saluran = 0,5 detik
Jawab :
3. Kesimpulan
Trafik pada
bisnis telekomunikasi dengan source random arrival atau kedatangan panggilan
acak tetapi node yang menangani sangatlah terbatas dari pendekatan dengan
probabilitas maka trafik dapat dikuantitafkan. Diharapkan dengan pendekatan
probabilitas dengan model trafik akan mempermudah engineer agar dapat
memperhitungkan probabilitas kedatangan panggilan, blocking, busy line, jumlah
panggilan loss dan rate kedatangan panggilan agar menjadikan penggunaan
jaringan lebih baik dan efisien.
Source:
PENDEKATAN PROB DAN MODEL TRAFIK.pdf;
Konsep Dasar Trafik. pdf;